LaskarPenaNews.com, Parittiga – Ada orang yang ketika melihat persoalan memilih berjalan menjauh. Ada pula yang justru memilih berdiri paling depan ketika masyarakat membutuhkan suara.
Ali Hartono adalah salah satunya.
Tokoh masyarakat Kecamatan Parittiga dan Jebus itu kini telah berpulang. Ali Hartono meninggal dunia pada Jumat, 2 Oktober 2026, dalam usia 55 tahun.
Sepanjang hidupnya, nama Ali Hartono tidak bisa dilepaskan dari berbagai dinamika masyarakat Kecamatan Parittiga dan Jebus, Kabupaten Bangka Barat. Ia dikenal sebagai sosok yang berani menyuarakan aspirasi warga, mendampingi masyarakat dan membawa persoalan mereka ke hadapan pemerintah maupun pihak-pihak terkait.
Seolah tidak mengenal kata lelah, Ali tetap berada di tengah masyarakat ketika sebagian orang memilih berhenti.
Bagi Ali, persoalan warga bukan sekadar cerita yang cukup didengar. Ketika masyarakat datang membawa keluhan, ia berusaha ikut memikirkan jalan keluarnya. Ketika warga membutuhkan pendampingan, ia berusaha hadir.
Bahkan, pada hari terakhir kehidupannya, Ali masih menjalankan aktivitas bersama masyarakat.
Jumat, 2 Oktober 2026.
Pada hari ketika Tuhan memanggilnya pulang, Ali masih mendampingi warga Dusun Kampak menemui Bupati Bangka Barat Markus. Kedatangan tersebut untuk menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Dusun Kampak dan berharap pemerintah daerah dapat membantu mencarikan solusi.
Tidak ada yang menyangka bahwa aktivitas mendampingi warga tersebut kemudian menjadi salah satu jejak terakhir perjalanan Ali Hartono.
Ia pergi ketika perjuangannya bersama masyarakat masih menjadi bagian dari aktivitasnya.
Jika ada yang bertanya kapan Ali berhenti mendampingi masyarakat, mungkin jawabannya justru ada pada hari terakhir kehidupannya.
Ia tidak berhenti.
Ia masih mendampingi.
Ia masih berjalan bersama warga.
Ia masih membawa persoalan masyarakat untuk disampaikan kepada pemerintah.
Hingga akhirnya, perjalanan itu berhenti untuk selamanya.
Jejak panjang Ali sebenarnya telah terbentuk jauh sebelum hari terakhir tersebut.
Pada Pemilu 2014, Ali tercatat sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat dari Partai NasDem untuk daerah pemilihan Jebus dan Parittiga.
Kiprahnya kemudian semakin dikenal melalui aktivitas kemasyarakatan.
Pada 2021, Ali tercatat sebagai Ketua Forum Kibar Pemuda Merah Putih (FKPMP) Kabupaten Bangka Barat. Ia tampil menyuarakan berbagai persoalan masyarakat dan mendorong perhatian pemerintah maupun aparat terhadap persoalan yang menyangkut warga.
Pada 2022, Ali juga menyampaikan aspirasi masyarakat Parittiga dalam rapat dengar pendapat DPRD Bangka Barat terkait persoalan tempat hiburan.
Pada 12 Mei 2023, Ali kembali berada di tengah masyarakat dalam aksi warga Jebus dan Parittiga. Saat itu ia menjadi koordinator aksi yang menyuarakan keresahan masyarakat terhadap oknum yang mengatasnamakan wartawan.
Namun, di tengah polemik tersebut, Ali pernah menegaskan bahwa dirinya tidak membenci profesi wartawan.
Dalam keterangannya yang diberitakan pada 2024, Ali menjelaskan bahwa persoalannya bukan dengan profesi wartawan maupun wartawan secara keseluruhan. Kritiknya ditujukan kepada oknum yang menurutnya menyalahgunakan profesi tersebut.
Ali juga menyatakan penghormatannya terhadap profesi wartawan serta pentingnya wartawan menjaga kode etik jurnalistik dan marwah profesinya.
Bagi Sukirman alias Sukir, salah seorang rekan yang mengenal Ali, sosok Ali bukan hanya seorang tokoh masyarakat.
Ia adalah rekan seperjalanan yang dikenal berani mengambil posisi ketika masyarakat membutuhkan seseorang untuk berbicara.
Hal senada juga disampaikan Rudi Fitrianto, tokoh masyarakat Kecamatan Parittiga, yang mengenal Ali dalam perjalanan aktivitas kemasyarakatan di wilayah tersebut.
Bagi orang-orang yang mengenalnya dari dekat, Ali memiliki karakter yang sulit dilupakan.
Ia tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan masyarakat.
Ketika ada warga yang datang membawa persoalan, ia mendengar.
Ketika masyarakat membutuhkan pendampingan, ia hadir.
Ketika aspirasi warga harus disampaikan, ia berada di depan.
Dan ketika akhirnya tubuhnya tidak lagi mampu melanjutkan perjalanan, hari terakhirnya justru masih dihabiskan bersama masyarakat.
Itulah Ali Hartono.
Seorang lelaki yang selama 55 tahun menjalani kehidupannya, dan sebagian perjalanan itu diwarnai dengan aktivitas bersama masyarakat Parittiga dan Jebus.
Kini, Ali telah pergi.
Namun jejaknya masih tertinggal di tengah masyarakat yang pernah didampinginya, di antara rekan-rekan seperjuangan, serta dalam ingatan warga yang pernah mengenalnya.
Ia tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada masyarakat yang selama ini didampinginya.
Namun ada satu kenangan yang mungkin akan selalu melekat.
Pada hari terakhir hidupnya, Ali Hartono masih bersama masyarakat.
Ia masih berdiri.
Ia masih menyuarakan aspirasi.
Ia masih mendampingi warga.
Hingga akhirnya Tuhan memintanya pulang.
Selamat jalan, Ali Hartono.
Usia 55 tahun menjadi penutup perjalanan hidupnya. Namun bagi masyarakat yang pernah mengenalnya, kisah tentang keberanian, kepedulian dan kesediaannya mendampingi warga akan terus menjadi bagian dari kenangan tentang dirinya.
