Laskarpenanews.com, TANGERANG – Menjelang Rebo Wekasan 2026 yang diperingati pada Rabu, 12 Agustus 2026, sebuah selebaran keagamaan berisi ajakan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan beredar di tengah masyarakat.
Selebaran tersebut mengajak umat Islam mengisi Rabu terakhir bulan Safar dengan berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari memperbanyak doa, zikir, istighfar, membaca shalawat, membaca Al-Qur’an hingga bersedekah.
Rebo Wekasan sendiri merupakan istilah yang dikenal dalam tradisi sebagian masyarakat Muslim di Indonesia untuk menyebut Rabu terakhir pada bulan Safar. Praktik dan pemaknaannya berkembang beragam di sejumlah daerah.
Dalam selebaran yang beredar, sejumlah amalan dicantumkan, di antaranya shalat sunnah atau hajat, memperbanyak istighfar, membaca shalawat Nabi, membaca Surah Yasin, Al-Waqi’ah dan Al-Mulk, memperbanyak doa, puasa sunnah, bersedekah serta memperbanyak zikir dan tahmid.
Selebaran itu juga memuat contoh doa yang berisi permohonan kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan, keselamatan, kesehatan serta dijauhkan dari berbagai musibah dan keburukan.
Meski demikian, pelaksanaan ritual khusus Rebo Wekasan memiliki perbedaan pandangan di kalangan ulama. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah status shalat yang secara khusus dikaitkan dengan Rebo Wekasan.
Dalam sejumlah pembahasan keagamaan, terdapat pandangan bahwa tidak terdapat dalil yang secara khusus menetapkan shalat bernama “shalat Rebo Wekasan” sebagai ibadah tertentu. Karena itu, bagi masyarakat yang hendak melaksanakan shalat sunnah, pelaksanaannya dapat ditempatkan sebagai shalat sunnah mutlak atau shalat hajat sesuai pemahaman keagamaan yang dianut.
Perbedaan pandangan tersebut menjadi bagian dari dinamika keagamaan yang perlu disikapi secara bijak. Masyarakat diharapkan tetap dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinan dan pemahaman masing-masing tanpa menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk saling menyalahkan.
RJ Damez, aktivis Curug, menilai momentum Rebo Wekasan dapat dimanfaatkan sebagai pengingat untuk meningkatkan ibadah sekaligus memperkuat kepedulian sosial.
Menurutnya, doa dan ibadah akan semakin memiliki nilai apabila turut diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti membantu masyarakat yang membutuhkan, bersedekah, menjaga hubungan baik dengan sesama serta menciptakan lingkungan yang harmonis.
“Momentum seperti ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak doa dan amal kebaikan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama,” ujar RJ Damez. (11/8/26)
Ia juga mengingatkan agar momentum Rebo Wekasan tidak dimaknai secara berlebihan hingga menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu menganggap Rabu terakhir bulan Safar sebagai hari yang secara mutlak membawa kesialan atau musibah. Sikap tawakal, memperbanyak doa serta melakukan amal kebaikan dinilai lebih penting.
Pemaknaan mengenai Rebo Wekasan memang tidak seragam. Sebagian masyarakat menjalankannya sebagai bagian dari tradisi keagamaan dan mengisinya dengan doa, ibadah, silaturahmi maupun sedekah. Sementara sebagian lainnya memilih tidak melakukan ritual khusus yang dikaitkan dengan hari tersebut.
Perbedaan tersebut merupakan bagian dari keberagaman pemahaman keagamaan yang perlu dihormati sepanjang tidak mengganggu kerukunan masyarakat.
Mengedepankan Ibadah dan Kemaslahatan
Beredarnya selebaran tersebut menjadi salah satu bentuk ajakan kepada masyarakat untuk memperbanyak ibadah dan amal sosial menjelang Rebo Wekasan 2026.
Doa, zikir, membaca Al-Qur’an, sedekah dan ibadah sunnah pada dasarnya merupakan bentuk ibadah yang dilakukan umat Islam sesuai pemahaman masing-masing.
Yang terpenting, momentum tersebut diharapkan tidak menjadi sumber ketakutan maupun pertentangan di tengah masyarakat. Sebaliknya, nilai-nilai keagamaan dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial, mempererat silaturahmi dan menjaga kerukunan.
Bagi masyarakat yang mengikuti tradisi Rebo Wekasan, sikap bijak, toleransi serta penghormatan terhadap perbedaan pandangan keagamaan menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis.
Jurnalis: RA Rachmawati
