Laskarpenanews.com, JAKARTA – Indonesia memasuki fase El Nino kuat pada awal Agustus 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional BRIN dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan lahan.
Profesor Riset BRIN, Prof Dr Erma Yulihastin, melalui akun X @EYulihastin menyebut fenomena Super El Nino telah terbentuk sejak 31 Juli 2026.
“Sudah resmi bahwa Super El Nino terbentuk 31 Juli 2026. Dengan demikian sudah tak perlu ada perdebatan lagi,” kata Erma, (M/2/8).
Erma menambahkan kenaikan suhu permukaan laut saat ini mencapai 0,1 derajat Celsius setiap minggu. Indeks harian El Nino relatif 3,4 juga telah melampaui 2 derajat Celsius.
Pernyataan itu sejalan dengan data BMKG. Dalam laman resmi, BMKG mencatat nilai indeks Nino 3.4 dasarian sebesar +2.26 dan Southern Oscillation Index SOI sebesar -28.2.
Kondisi tersebut menandakan berlangsungnya El Nino kuat yang berpotensi terus menguat dalam beberapa waktu ke depan.
BMKG memperkirakan dampaknya berupa berkurangnya pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah. Akibatnya curah hujan di Indonesia akan tertekan.
Pada Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 91,43 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah. Sementara 8,57 persen lainnya masuk kategori menengah.
Untuk mengantisipasi hal itu, BMKG mengeluarkan sejumlah imbauan. Warga diminta menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, menjaga kecukupan cairan tubuh, dan tidak membakar sampah sembarangan.
Pemerintah daerah juga diminta memantau titik panas dan segera melaporkan jika ada indikasi kebakaran.
Catatan redaksi: Informasi iklim dapat berubah sewaktu-waktu. Masyarakat diimbau mengikuti update resmi dari BMKG dan BRIN.
