SSTA Nino 3.4 Tembus +1,69. 61% Wilayah Hujan di Bawah Normal

 

JAKARTA, LASKARPENA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG angkat suara. El Nino 2026 dipastikan naik level. Dari yang semula hanya 20% kini peluang El Nino Kuat sudah di angka 98%.

 

Data Dasarian III Juni 2026 jadi bukti. Anomali suhu permukaan laut SSTA di wilayah Nino 3.4 tembus +1,69. Itu artinya Indonesia resmi masuk El Nino Condition.

 

“Yang perlu kita waspadai adalah ketika fenomena El Nino terjadi bersamaan dengan Musim Kemarau. Ini akan membuat hujan lebih sedikit, seperti yang kita alami pada tahun ini,” tegas Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Rakor Pengendalian Inflasi, Senin (29/6/2026)

 

Kemarau Lebih Kering dari Biasanya

Imbasnya langsung terasa. Hujan makin pelit.

 

Berdasarkan analisis BMKG, pada Dasarian III Juni 2026, 64,55% wilayah Indonesia masuk kategori curah hujan Rendah. Hanya 0,01% yang Sangat Tinggi dan 1,24% Tinggi.

 

Lebih parah lagi sifat hujannya. 61,28% wilayah berada di Bawah Normal. Yang Normal cuma 13,80%. Sementara yang Jauh di Atas Normal hanya 14,83%.

 

BMKG juga memprediksi Musim Kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih kering dibanding rata-rata. Per Dasarian III Juni, 48,9% wilayah RI atau 342 ZOM sudah kemarau. Mulai dari sebagian Jambi, Kalteng, Kalsel, Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sulsel, Sultra, sampai Maluku.

 

1 Titik di Merauke 61 Hari Tanpa Hujan

BMKG tidak main-main. Peringatan dini kekeringan meteorologis sudah dikeluarkan untuk Dasarian I Juli 2026.

 

Wilayah yang masuk zona merah: beberapa kabupaten/kota di Jabar, Jateng, DIY, Jatim, NTB, NTT, Papua Selatan, Banten, Bali, dan Maluku.

 

Buktinya sudah ada. Tercatat 67 titik alami Hari Tanpa Hujan HTH Panjang. 329 titik HTH Sangat Panjang. Dan 1 titik HTH Ekstrem Panjang.

 

Yang paling parah di Pos Hujan Okaba, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Sudah 61 hari tidak diguyur hujan sama sekali.

 

BMKG meminta Pemda segera siapkan antisipasi. Mulai dari krisis air bersih, gagal panen, hingga potensi karhutla.

 

Sumber : BMKG, rilis Analisis Dinamika Atmosfer 3/7/2026

 

By admin