LASKAR PENA NEWS, Jakarta– NamaJenderal TNI (Purn) Wismoyo Arismunandar punya tempat tersendiri di jajaran Korps Baret Merah. Bukan hanya karena ia pernah menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), tapi juga karena keberanian, ketangguhan, dan kecerdasannya di medan tempur.

 

 

Salah satu kisah legendarisnya terjadi di pedalaman Kalimantan Barat, 1969–1970. Saat itu Kapten Infanteri Wismoyo tergabung dalam operasi penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) di perbatasan Indonesia-Malaysia.

 

Medannya ekstrem. Hutan Kalimantan masih lebat dan nyaris belum tersentuh. Pohon raksasa menutup sinar matahari. Pasukan berjalan kaki ratusan kilometer melewati sungai, rawa, perbukitan, dan rimba belantara penuh ancaman.

 

Yang membuat kisah ini luar biasa, Wismoyo menjalani sebagian besar operasi dalam keadaan berpuasa sunnah. Di tengah keterbatasan logistik, kelelahan fisik, dan ancaman musuh, ia tetap menjaga ibadah dengan disiplin.

 

 

Di tengah operasi, Wismoyo menemukan lokasi mencurigakan yang ternyata Death Letter Box — sistem komunikasi rahasia gerilya. Pesan ditanam di tanah pada titik tertentu, lalu diambil kurir lain tanpa tatap muka.

 

Penemuan itu jadi terobosan. Dari kotak surat mati itulah aparat keamanan mulai memahami pola komunikasi, jalur pergerakan, dan jaringan PGRS-Paraku. Informasi itu membantu TNI membongkar titik komunikasi rahasia lain dan mempersempit ruang gerak gerilya.

 

Mantan Kepala BIN Jenderal TNI (Purn) A.M. Hendropriyono mengakui, pembongkaran jaringan PGRS-Paraku berawal dari penemuan Kapten Wismoyo.

 

 

Keberhasilan itu menunjukkan kemenangan militer tak hanya ditentukan senjata, tapi juga ketelitian, kecerdasan membaca situasi, kesabaran, dan keteguhan mental.

 

Karier Wismoyo terus menanjak. Ia dipercaya memimpin Kopassandha, cikal bakal Kopassus, sebagai Danjen periode 1983–1985. Kepemimpinannya tegas, disiplin, tapi dekat dengan prajurit.

 

Sebagai ipar Presiden Soeharto lewat pernikahan dengan Sri Hardjanti, Wismoyo tetap membangun reputasi dari prestasi lapangan. Ia dikenal religius dan punya visi kuat tentang soliditas antar-matra ABRI.

 

Saat menjabat KSAD, ia jadi motor kekompakan para kepala staf angkatan lewat kunjungan lintas matra. Tujuannya menghilangkan sekat organisasi dan memperkuat kebersamaan.

 

Meski sempat disebut kandidat Panglima ABRI, Presiden Soeharto menunjuk Jenderal Feisal Tanjung. Setelah itu Wismoyo dipercaya memimpin KONI, amanah lain yang menunjukkan kepercayaan negara padanya.

 

Jenderal Wismoyo meninggalkan warisan berupa keberanian, loyalitas, kesederhanaan, dan keteguhan iman. Dari rimba Kalimantan hingga pucuk pimpinan TNI AD, ia membuktikan prajurit sejati kuat fisik, tangguh pikiran, kokoh keyakinan.

 

Sumber: http://inews.id

By admin